Saturday, October 17, 2015

Waktu Oh... Waktu

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Lama sudah tidak menulis, sekarang mulai lagi, setelah sebelumnya menulis karena ada tugas. Maka kali ini menulis, karena harus, harus dan harus… >_<


Ceritanya mau mulai menulis lagi, karena telah sekian lama blog ditinggalkan, dan memang ada satu hari di Jum’at lalu, terpesona dengan seseorang yang rutin menulis 2 artikel setiap harinya. Bagaimana saya tidak terkagum-kagum, dengan aktifitas beliau yang lumayan banyak sebagai ibu rumah tangga, pebisnis, penanggung jawab beberapa komunitas, pengajar, dan memiliki 3 orang anak di usia 34 tahun, beliau masih bisa melakukan pemilahan sampah dengan baik, kegiatan di luar, dan menulis 2 artikel sehari, tanpa meninggalkan tugas memasak, beres-beres rumah sebagai ibu rumah tangga.

Usut demi usut, akhirnya beliau sharing mengenai manajemen waktu beliau, yang kuncinya saya lihat ada dalam beberapa hal: SYUKUR, DISIPLIN dengan checklist harian, MENGURANGI WAKTU TIDUR, dan TERPAKSA yang akhirnya menjadi TERBIASA.

Ya, wujud mensyukuri waktu yang Allah swt anugerahkan kepada kita adalah mengisinya dengan amal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, yang intinya bertambah-tambah dalam kebaikan dan kebaikan. Dan pastinya dilandasi dengan keimanan yang benar.

Pembelajaran lainnya mengenai manajemen waktu saya dapatkan juga dari sharing seorang teman, tepatnya seorang ibu yang sharing di grup WA, mengenai kaitan shalat awal waktu dan manajemen waktu, yang langsung mengingatkan saya pada hadits Rasulullah saw: “Jagalah Allah swt, niscaya Allah swt akan menjagamu.” (HR. Ahmad; Tarmidzi; Al-Hakim). Jika diumpamakan saat kita shalat di awal waktu, berarti kita menjaga waktu-waktu panggilan Allah swt kepada kita, sehingga Allah swt pun menjaga waktu kita dengan mengatur waktu-waktu kita menjadi lebih efektif dan produktif. Insyaallah…

Jika dengan hal yang wajib kita tepati kepada Allah swt, apalagi dihiasi dengan amalan yang sunnah-sunnah, sehingga terwujudlah ketakwaan kita kepada Allah swt, maka sudah jelas dan pasti Allah swt akan memberikan kemudahan bagi urusan-urusan kita, memberikan solusi dan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mengenai ketaqwaan ini, juga mengingatkan saya dengan kajian yang saya pelajari dari kegiatan kuliah keluarga hari ini, saat seorang ibu (almarhumah) dari 13 anak dengan segudang aktifitas rumah dan aktifitas di luar ditanya oleh pemateri, bagaimana cara beliau mengatur semua kegiatan beliau. Beliau menjawab, bahwa beliau meyakini firman Allah swt di penghujung ayat 282 surat Al-Baqarah, yang artinya Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Pemateri tersebut senantiasa mengingat pesan almarhumah dan menjadikan beliau juga baik mengatur waktunya. Coba saja dibayangkan, dalam rentang 5 tahun di awal pernikahan, beliau sudah memiliki 4 anak, dan sekarang sudah mempunyai 7 anak. Beliau juga tetap berperan di rumah, sebagai istri dan ibu bagi anak-anak beliau, juga mengajar di sekolah serta berkegiatan di luar.

Alhamdulillah untuk pembelajaran beberapa hari ini, begitu terasa sangat tertinggal jauhnya saya dalam hal ini, jauuuuh sekali… T_T

Semoga Allah swt berikan kemampuan bagi saya untuk bisa mengikuti.  Aamiin Allahumma aamiin… Bismillah…


G.R. Parahyangan, 5 Mhr 1437 H/ 18 Okt 2015

Thursday, June 25, 2015

Kajian Ramadhan bersama Al-Fatih #6

Catatan Kajian Ramadhan Bersama Al-Fatih #6 (Siroh dalam Al-Quran)

Ust. Budi Ashari, Lc.

 Dzulqornain, Potret Pemimpin Terbaik
(4 Ramadhan 1436/21 Juni 2015)

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa menyebutkan bahwa kisah Dzulqornain ialah kisah terbaik tentang raja-raja.

Kisah ini terdapat dalam surat Al-Kahfi, surat yang turun di masa sulit kenabian. Saat itu Allah menurunkan empat kisah: kisah dua orang yang kaya dan miskin, kisah ashabul kahfi, kisah Nabi Khidir, dan kisah Dzulqornain.

Mengapa saat di masa sulit, Allah menurunkan kisah Dzulqornain?
Menurut Syaikh Mubarakfuri, kisah ini untuk menyampaikan pada Nabi bahwa kondisi Nabi Muhammad saat itu memang sulit, namun suatu saat kekuasaan beliau akan meliputi Timur dan Barat, seperti Dzulqornain.

[Sababun Nuzul Dzulqornain]
Orang Yahudi memberikan bekal banyak dari sisi ilmu pada kafir Quraisy untuk menyerang Nabi. Saat itu, orang Yahudi mengatakan pada kafir Quraisy agar bertanya tentang tiga hal pada Muhammad, yaitu ruh, raja yang menguasai timur dan barat, dan pemuda yang ditidurkan oleh Allah. Yahudi berkata, jika Muhammad bisa menjawab detil, maka dia bukan Nabi.

Rasulullah saat itu tidak menjawab tiga pertanyaan ini dengan detil. Tentang urusan ruh, Rasulullah menjawab bahwa ruh ialah urusan Allah dan manusia tidak diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit. Tentang ashabul kahfi, tidak ada kejelasan mengenai jumlah pemuda. Tentang Dzulqornain pun begitu, lebih banyak yang tidak jelasnya. Semua ketidakdetilan ini membuktikan bahwa Muhamad ialah seorang Nabi.

Tentang Dzulqornain pun ada perbedaan pendapat. Ada yang menyebutkan bahwa ia adalah Iskandar The Great murid Aristoteles, ada yang berpendapat bahwa ia adalah raja Persia, raja Cina, bahkan ada yang berpendapat bahwa ia adalah orang yang menyembunyikan imannya di kisah Nabi Musa.

[Kaidah Bertanya]
Bertanya boleh, bahkan dianjurkan. Bertanyalah pada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui. Namun, hati-hati juga jika banyak bertanya yang tujuannya untuk lari dari syariat. Inilah salah satu penyebab hancurnya orang-orang terdahulu.

Orang kafir bertanya tentang tiga hal ini dengan niat buruk, namun jawaban dari Nabi ternyata sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin. Inilah wujud dari "..wallahu khairul maakirin."

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu sebagian cerita tentangnya."
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu," (Al Kahfi: 84-85)

Masa depan kaum Muslimin ialah masa depan kebesaran dan kekuasaan (Tamkin) Islam. Untuk mempelajari Tamkin ini, maka kita perlu belajar dengan orang terdahulu yang telah Allah berikan Tamkin. Salah satunya ialah Dzulqornain.

Allah memberikan kekuasaan kepada Dzulqornain karena Dzulqornain telah memiliki "Sababa", yaitu jalan, sebab, dan perangkat kesuksesannya. Bisa jadi, umat Islam saat ini tidak dapat memimpin (atau berhasil memimpin, lalu jatuh lagi) karena tidak memiliki perangkatnya dengan lengkap. Jika sababa sudah cukup, maka akan Allah berikan tamkin.

Al-Quran hanya mencatat tiga perjalanan Dzulqornain dari sekian banyak perjalanannya. "Perjalanan" ini mengajarkan pada umat Islam bahwa seperti itulah seharusnya pemimpin. Ia berjalan melihat kondisi orang yang dipimpinnya. Bukan duduk di singgasananya. Umar bin Khattab pun mengeluarkan banyak kebijakan penting yang berasal dari hasil perjalanan malamnya.

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka."
قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا

Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya."
وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami." (Al Kahfi: 86-88)

Oleh karena kekuasaannya meliputi bumi, maka Dzulqornain berjalan mengelilingi bumi. Ia sampai di tempat matahari terbenam, di air yang hitam. Di sana ia bertemu dengan suatu kaum dan memberikan kaidah penting kepemimpinan.
Bagi orang yang kafir akan diberikan hukuman, dan hukuman Allah jauh lebih keras lagi. Bagi yang beriman akan diberikan pahala dari Allah dan dimudahkan urusannya. Dzulqornain pun mendakwahkan mereka.

Kemudian Dzulqornain menempuh jalan lain ke Timur ke tempat terbitnya matahari.
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا

demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya." (Al-Kahfi: 89-91)

Ada dua penafsiran:
1. Masyarakat ini disinari terus oleh matahari sepanjang hari.
2. Masyarakat ini tidak memakai pakaian.

Jika di Barat tindakan Dzulqornain jelas, yaitu mendakwahkan kaum tersebut, tapi di ayat ini tidak disebutkan dengan jelas apa yang dilakukan oleh Dzulqornain.
Lalu apa yang dilakukan oleh Dzulqornain? Ternyata Dzulqornain melakukan hal yang sama dengan kaum sebelumnya. Hal ini diketahui dari kata كَذَٰلِكَ di awal ayat ini.

[Al-Kahfi: 92-98]
Dzulqornain pun berangkat lagi hingga menemui kaum yang hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan. Namun, Dzulqornain tetap berusaha berkomunikasi dengan mereka.
Inilah pelajarannya, meskipun seorang pemimpin menemui masyarakat yang susah diajak berkomunikasi, maka seorang pemimpin wajib berusaha menghilangkan kesulitannya.

Kaum ini meminta dibuatkan "sadda" yang dapat melindunginya dari Ya'juj Ma'juj. Dzulqornain justru membantu mereka dalam membuat "rodma"
[Sadda: dinding biasa
Rodma: dinding berlapis]

Dalam membuat "rodma", Dzulqornain tidak mengambil upah, ia hanya meminta bantuan tenaga. Inilah potensi kaum ini yang dilihat oleh Dzulqornain.

Pelajarannya, pemimpin tidak harus memenuhi keinginan yang diucapkan rakyatnya. Jika ada hal yang lebih baik dari apa yang diinginkan rakyat, maka pemimpin dapat melakukan hal tersebut.

_______________________
📦 Infaq Kegiatan Ramadhan Bersama Al-Fatih
• Bank Syariah Mandiri
• No. Rek 7062270114 a.n. Al Fatih Pilar Peradaban, Yayasan
• Transfer dengan menambahkan kode unik #900 di belakang (mis: 1.000.900)

📞 Narahubung: 081320003460 (Abu Ibrahim)

📋 Kegiatan dan laporan keuangan dapat dilihat di website www.kuttabalfatih.com

🔈 Silakan sebarkan kiriman ini tanpa mengubah aslinya. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jazaakumullah khairan.

📌 Hadirilah kajian berikutnya, Sabtu 10 Ramadhan 1436/27 Juni 2015 pkl 8.30-12.00 di Kuttab Al-Fatih Depok, Jl. Lafran Pane Raya No. 100, RTM, Cimanggis, Depok.
Tema:
🔰Perang Badar, Saat Tiada Usaha Manusia oleh Ust. Iwan Setiawan, Lc.
🔰Perang Hunain, Matematika Manusia Penyebab Kekalahan oleh Ust. Budi Ashari, Lc.