Saturday, October 18, 2014

Menyiapkan Generasi Aqil Baligh #02

Cara menyiapkan generasi Pre ‘Aqil Baligh 0-7 tahun


Telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan “Home Education”, bahwa memulai HE :

1. Menyadari peran kita sebagai penerima/penjaga amanah Allah SWT dengan tujuan utama adalah untuk mencintai Allah SWT melalui penguatan Aqidah (ketauhidan) dan Akhlak (keshalihan dalam amalan) 

2. Membuat list tugas yang “SEMESTINYA” kita lakukan sebagai orang tua, kemudian menjalankannya satu demi satu dengan istiqamah: konsisten (terus menerus), resisten (punya daya tahan/keteguhan) dan persisten (selalu ada kemajuan). Adapun kunci awal dari semua ini adalah mendidik diri kita lebih dahulu sebelum mendidik anak.

3. Memahami konsep “Anak dilahirkan atas fitrah”. 

4. Mempersiapkan diri, kuatkan mental, dan merubah cara mendidik yang lebih baik untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. 

5. Tazkiyatunnafs: pensucian jiwa/membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga/berhati-hati dari hal-hal syubhat apalagi haram, yang biasa dikenal dengan wara’ kepada Allah swt dengan harapan keridhaan-Nya dan agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kecerdasan yang tinggi atau peran (tau’iyatul a’laa). Ini merupakan pondasi awal dalam mendidik anak, selanjutnya masalah teknis.


Tujuh tahun pertama (0-7 th): Ajak anak untuk “KAYA” akan wawasan

Pada tahap ini orangtua bertugas memandu anak-anak untuk memperkaya wawasan mereka, dengan cara memperbanyak mengenal ayat-ayat Allah yang tersebar di muka bumi. Sebagaimana kita ketahui bahwa ayat-ayat Allah swt terbagi pada dua bentuk: Ayat Kauniyah (alam semesta dan ciptaan-Nya) juga Ayat Qauliyah (Al-Qur’an).

Untuk anak 0-7 tahun memperkenalkan Ayat-Ayat Kauniyah bisa didahulukan dalam memperkenalkan cinta kepada Allah yang Maha Mencipta kepada mereka, disamping memperkenalkan Ayat Qauliyah melalui bacaan/hafalan kita (orangtua/pendidik). Karena melalui ciptaan Allah swt, bahkan dari kehadiran anak-anak atau dalam diri mereka sendiri, merupakan karunia Allah swt / bukti keberadaan sang Pencipta (Allah swt), begitu juga dengan alam yang ada di sekitar mereka yang merupakan bukti kebesaran dan kecintaan Allah swt kepada kita (manusia).

Kata kuncinya pada masa ini adalah membuat anak “KAYA” wawasan, karena hanya orang kaya yang bisa memilih. Kaya wawasan juga termasuk sekolah, namun yang utama dan terpenting adalah memberikan hal wajib yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dimana keduanya tidak ada perintah langsung dengan kata “sekolah” atau “madrasah”, melainkan dengan IQRA’ dan THALABUL ‘ILMI (Uthlubul ‘ilma…). 

Maka ajaklah anak kaya wawasan untuk melihat berbagai macam bentuk dan cara ‘Iqra dan Thalabul ‘Ilmi. Sekolah merupakan salah satu cara dari ‘Iqra dan Thalabul ‘Ilmi, tetapi bukan satu-satunya.

Memberikan pilihan sekolah kepada anak sebaiknya di usia SD, sedangkan sebelum usia itu sebaiknya kita bermain dan belajar bersama anak.

Tahapan kaya wawasan adalah iman, akhlak, dan adab. Maka sarana mengenalkan ayat-ayat tersebut adalah dalam rangka meningkatkan aqidah anak tentang kecintaannya kepada Allah swt.

Adapun tahap berikutnya adalah mengajarkan adab kepada anak, seperti adab tidur, adab makan minum, adab berdoa, adab bersyukur dan
sebagainya. Selanjutnya mengajarkan cara berbicara yang baik dan jujur, karena Rasulullah itu Shiddiq dan juga Tabligh.


Prinsipnya adalah DON’T TEACH ME, I LOVE TO LEARN. Jangan pernah mengajari, karena mendidik itu bukan mengajar, tetapi belajar. Maka belajarlah bersama anak.

Jadikan anak sebagai subyek pembelajaran, proses belajar disesuaikan dengan anak, bukan anak yang dipaksa menyesuaikan diri dengan semua standar dan metode pendidikan yang ada, karena itu pilihlah metode belajar yang menyenangkan.

Libatkan anak dalam berbagai kegiatan yang kita lakukan (sesuai dengan tingkatan usia anak). 

Kemanapun kita pergi, beraktivitas dengan mereka, pertanyaan yang muncul di benak kita adalah: “Pelajaran apa yang bisa didapatkan anakku hari ini?”


Sehingga kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, anak-anak tetap masuk dalam ranah belajar. 

Ingat kembali 4 hal tujuan pendidikan anak:

1. Intellectual Curiosity (Membangkitkan Rasa Ingin Tahu)
2. Creative Imagination (Imajinasi Kreatif)
3. Art of Discovery and Invention (Seni Menemukan Hal Baru)
4. Noble Attitude (Akhlak Mulia)


Keempat hal tujuan pendidikan pre aqil baligh ini (bisa disingkat menjadi I CAN) harus bermuara pada 4 tahapan yaitu: iman, akhlak, adab dan bicara.

Untuk usia 0-7 tahun perbanyaklah bermain “Membuat game bertanya” dengan anak, sebagaimana tujuan belajar yang pertama yaitu membangkitkan rasa ingin tahu (Intellectual Curiosity) dengan menggunakan 5W 1H (What, Where, Why, When, Who & How)

Misal beberapa waktu lalu, kegiatan di hari raya Idul Adha: bisa mengenalkan kisah keluarga Nabi Ibrahim as. Selanjutnya rasa ingin tahu tentang kambing (kurban) – jawaban diarahkan pada penguatan iman, akhlak, adab dan bicara. Jika anak sudah punya Intellectual Curiosity, maka balas dengan The Power of Question bukan dengan pernyataan, apalagi mematahkan/memadamkan rasa ingin tahu anak. 

Contoh: Saat kita memotong daging kurban untuk dimasak.
Anak: “Bunda, aku mau potong-potong”
Bunda: “Waah… Mau belajar ya… :) mau pakai pisau-pisauan atau guntung-guntingan?”


Setelah anak memilih, beritahu cara yang benar, jika anak ngotot ingin memakai pisau asli, beri anak tantangan, “Kalau kakak/adik sudah pintar pakai alat latihan ini, langsung kita masuk level pekai pisau beneran”. Dan penuhi janji kita, saat anak berhasil melakukannya, kenalkan juga resiko dari benda-benda tajam kepada anak-anak agar anak berhati-hati.

Bersikap tegas dengan cara baik dan benar kepada anak sudah dimulai sejak usia 0-7 tahun. Karena itu masa pembentukan (menggunakan komunikasi produktif kepada anak). Semakin bertambah usia, semakin longgar.

Mengelola hubungan komunikasi antara Ayah Ibu kepada anak, antara marah dan tegas itu berbeda. Marah itu, hati kita ikut sert, sehingga hasilnya tidak baik, suara terdengar keras, wajah terlihat ‘kesal/sangar’, sedangkan ‘tegas’, hati tidak ikut, sehingga yang kita ucapkan dan tindakan yang muncul tetap baik dan benar. Jangan perbanyak emosi, hukum alamnya orang yang emosionalnya tinggi, rasional dan logikanya rendah. Dalam hal ini bahasa ibu (orangtua), adalah sarana anak dan orangtua saling memahami dan membangun bonding. Jika muncul tantangan (masalah) bersama anak, buatlah penyelesaian dengan prinsip I WIN, You WIN. 

Agar kegiatan belajar lebih teratur, kita bisa membuat menu bermain dengan anak menjadi 3: menu pagi, menu siang, dan menu malam (jadwal ini sebagai contoh saja, bisa dirubah menyesuaikan keluarga masing-masing).

Menu Pagi : dari bangun tidur – jam masuk sekolah (jika anak sudah sekolah)
Menu Siang : jam belajar anak-anak di sekolah (jika belum sekolah, kembali kita ingat bahwa anak bisa belajar bersama siapa saja dan dimana saja, tidak harus di sekolah)
Menu Malam : Pulang sekolah – sebelum tidur.


Bersambung…

Tuesday, October 14, 2014

Menyiapkan Generasi Aqil Baligh #01

Pre ‘Aqil Baligh mulai 0-7 tahun

Sebagaimana telah diketahui sebelumnya, proses mendidik adalah proses “inside out”, kita menemani anak-anak untuk mengeluarkan potensi-potensi fitrahnya agar tumbuh paripurna (insan kamil). Diantara fitrah itu adalah fitrah waktu pertumbuhan atau tahap perkembangan. Menyiapkan generasi ‘aqil baligh tentu ada tahapan-tahapannya:

         Untuk pendidikan generasi Aqil Baligh pada tahap balita, referensi yang paling indah adalah kehidupan Rasulullah saw di usia 0-5 tahun. Kebanyakan kita menganggap bahwa pendidikan sama dengan sekolah, sehingga banyak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) berubah bentuk menjadi SAUD (Sekolah Anak Usia Dini). Sehingga kebanyakan orangtua memasukkan anak-anak (balita) mereka ke sekolah atau lembaga untuk persiapan masuk ke tingkat selanjutnya (SD). Tetapi PAUD bukanlah seperti yang dimaksud kebanyakan orang, tetapi menjaga anak-anak balita agar tetap utuh menjadi anak usia dini dengan semua aspek fitrah pada usianya.

        Sebagaimana Rasulullah saw, kita bisa melihat bagaimana Allah swt mempersiapkan pendidikan usia dini Rasulullah saw sebagai seseorang yang paling lembut dan halus tutur katanya. Kefasihan tutur itu adalah “BAHASA IBU” yang diperoleh beliau dengan baik ketika tinggal di kalangan Bani Sa’adah pada rentang usia 0-5 tahun, yang bahasanya masih murni. Bahkan pada masa anak-anak beliau, Rasulullah dikenal dengan gelar al-amin ­(yang dipercaya perkataannya).Bahasa bukan sekedar grammar, dia adalah ekspresi fikiran dan perasaan, gagasan dan curhatan. Bahasa Ibu sangat penting untuk membentuk generasi ‘aqil baligh pada tahap berikutnya.

        Sebagai catatan, banyak pakar pendidikan yang tidak merekomendasikan mengajarkan bahasa asing pada usia balita, bahkan sampai usia 9 tahun. Sekalipun ada juga pendapat yang menolaknya. Karena, banyak kasus dengan terlalu cepat mengajarkan bahasa asing akan menyebabkan mental block, yaitu kegagalan dalam mengekspresikan gagasan. Ini jauh lebih buruk daripada tidak bisa berbahasa asing sama sekali. Anak-anak yang sulit mengekspresikan perasaan maupun gagasan akan memiliki hambatan perkembangan dan rentan depresi. Jadi bahasa ibu adalah bagian penting dalam bahasa balita. Bahasa ibu adalah bahasa native sehari-hari di rumah/keluarga.

Adapun teknik pendidikan anak 0-5 tahun yang kedua adalah melalui Belajar Bersama Alam (BBA): melalui belajar di alam terbuka, meng”alami” langsung fenomena-fenomena di alam dan sekitar. Memperkenalkan ayat-ayat kauniyah Allah swt melalui alam sekitar kepada anak, akan lebih mengena ke dalam diri anak dibandingkan anak ditunjuk-ajari. Sebagaimana kita ketahui juga bahwa Rasulullah saw memiliki fisik yang sehat dan kuat selama belajar di alam.

Rasulullah saw menggembalakan kambing sampai puncak bukit, sekitar usia 3-7 tahun. Pada hari ini kegiatan tersebut bisa diganti dengan permainan outbond dan kegiatan outdoor, outing bareng orangtua. Tidak ada cerita detail tentang berapa usia Rasulullah saw mulai menggembalakan kambing, tetapi yang jelas selama Rasul berada di Bani Sa’adah beliau melakukan itu. Untuk anak-anak kita sekarang aktifitas-aktifitas tersebut disesuaikan dengan usia anak dan dicarikan aktifitas serupa yang melatih sensomotorik dan executive function. Misalnya peternakan kecil dengan tingkatan yang disesuaikan dengan kemampuan anak.

Dengan cara Belajar Bersama Alam, kita bisa mengajak anak tadabbur al-Qur’an sembari memandang keindahan ciptaan Allah, sambil bergerak dan berimajinasi, sehingga akan jauh lebih berkesan dan efektif untuk sensomotorik anak. Dalam hal ini orangtua memandu anak untuk mengenal alam, mengenal dirinya, mengenal tanda-tanda zaman, dalam rangka menguatkan rasa cinta kepada Allah swt.

        Berikutnya yang ketiga adalah Akhlak dan Kearifan Lokal yang sesuai dengan akhlak Islam.

       Adapun yang keempat adalah Aqidah atau ma’rifatullah, untuk hal ini perlu pembahasan khusus untuk penjelasannya.

        Melihat itu semua, sesungguhnya hal-hal yang justru mesti kembali kepada kita selaku orangtua. Kita mesti memperbaiki tutur bahasa, mulai suka dan sering beraktifitas fisik di alam, mempraktekkan akhlak-akhlak dan adab-adab baik di rumah, dan memiliki aqidah yang baik.

        Anak balita pada dasarnya menyukai tutur yang halus, suka bergerak di alam terbuka, suka perbuatan-perbuatan baik dan menyenangkan, serta membutuhkan sosok Tuhan. Sosok Tuhan yang dimaksud di sini adalah kasih sayang dan perlindungan orang tuanya.

Merujuk kepada pendidikan ala Nabi Ibrahim as, “Bapak segala Nabi”, pola pendidikan mengenal alam sudah diterapkan sejak dini kepada putra-putra beliau. Aktifitas fisik di alam itu pada dasarnya bergerak atau berkegiatan untuk memahami ayat-ayat Allah swt. Konsep beliau tentang pendidikan putra putrinya sangat lengkap, meliputi aspek:
1.       Tilawah untuk pencerahan intelektual
2.       Tazkiyah untuk penguatan spiritual
3.       Taklim untuk pengembangan keilmuan
4.       Hikmah sebagai panduan operasional dalam amal kebajikan

Menjelaskan hikmah kepada anak perlu dilakukan. Hikmah ini membutuhkan kearifan. Dapat dimulai dari alasan keberadaan kita diciptakan Allah. Hikmah ini akan menjadikan kita memiliki dasar yang hakiki dalam melangkah di setiap kehidupan.

Pendidikan dengan pola ini membuat Ismail as sangat yakin akan keberadaan Allah swt di usia yang masih kecil, artinya setiap kali mengenal alam, rasul dan para nabi selalu mengaitkannya dengan aqidah.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada usia 0-7 tahun anak masuk dalam tahap KAYA WAWASAN, maka tugas kita orangtua adalah mendampingi anak-anak untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya pengalaman. Memperkenalkan alam kepada anak-anak dimulai dari lingkungan sekitar kita, sehingga sejak dini mereka akan paham dengan lingkungan dimana mereka hidup, sehingga kearifan lokal akan muncul dalam diri anak ketika memasuki aqil baligh. Anak pun tidak tercerabut dari lingkungannya sehinhga mereka menjadi 'aqil dan baligh secara bersamaan.

Pembahasan Grup WA (HE-bPA), 03 Oktober 2014